![]() |
| (source: freepik/ freepik.com) |
Fenomena kekerasan dan pelecehan seksual pada anak semakin kerap terjadi pada dekade ini. Tidak hanya anak sebagai korban, namun juga anak sebagai pelaku. Hal ini tentu meresahkan parents sekalian. Terus gimana? ya itulah pentingnya sex education atau pendidikan seks untuk anak-anak, karena adanya kekerasan atau pelecehan seksual salah satu akar mulanya adalah minimnya edukasi seks terhadap anak. Keengganan para guru dan orang tua untuk memberikan jawaban yang jelas mengenai seksualitas membuat anak berusaha untuk mencari sendiri jawaban atas pertanyaannya dari sumber yang belum tentu benar. Anak mencari informasi melalui internet yang bisa saja disalah artikan oleh anak. Banyak anak Sekolah Dasar (SD) sekarang ini yang sering melihat video adegan dewasa. Selain dari video, anak laki-laki juga sering jahil membuka rok anak perempuan. Hal tersebut mereka lakukan karena rasa ingin tahu mereka mengenai seksualitas yang tidak mereka dapatkan dari orang tua maupun guru (Mayasari, 2018).
Jadi baik guru di sekolah yang memberikan edukasi, atau pemerintah yang membuat kebijakan, dan orangtua sebagai subjek yang terdekat dengan anak memiliki peranan yang sangat penting untuk mengenalkan sex education kepada anak. Lantas bagaimana parents berkontribusi untuk memberikan sex education kepada anaknya? yuk simak paparan berikut ini!
Beri tahu anak tentang anggota tubuh dan fungsinya
![]() |
| (source: tirachardz/ freepik.com) |
Hidup adalah tentang bereksplorasi, masa anak-anak adalah masa bereksplorasi dengan pemikirannya yang harus konkrit. Tahapan kognitif pada anak yang harus berpedoman pada hal-hal konkrit teus beriringan dengan hormon dan fungsi kerja anggota tubuhnya. Hal ini yang membuat anak akan banyak bertanya, mengapa begini mengapa begitu. Pertanyaan mereka tidak bisa dikatakan “sembrono” karena memang berdasar pada keingintahuan, oleh sebab itu penting sekali untuk orang dewasa dapat menjalin komunikasi yang baik dengan anaknya, khususnya dalam hal ini.
Kenalkan pada anak anggota tubuhnya, seperti mata, telinga, hidung, perut, tangan, pusar, kemaluan, kaki, paha, dan lainnya. Berikan penjelasan juga mengenai fungsi dari masing-masing anggota tubuh tersebut. Parents bisa pakai buku yang relevan atau video dan media lainnya untuk membahas anggota tubuh ini yah. Tanamkan juga pada diri anak bahwa pada bagian tubuh tertentu tidak boleh dipegang oleh siapapun. Contoh: “Kak, tubuh kakak itu cuma boleh kakak yang pegang. Apalagi bagian-bagian sensitif seperti vagina atau penis dan payudara. Jadi, kalau ada yang memegang tubuh kakak, jangan diam saja ya, kakak harus menolak atau cari pertolongan kalau ternyata dipaksa.” tersebut adalah contoh berdialog dengan anak untuk mengingatkan bagian tubuh vital tidak boleh disentuh siapapun.
Beri tahu juga tentang masa pubertas yang akan mereka alami
Masa puber adalah kepastian bahwa akan dialami oleh anak. Sebelum memasuki masa puber, tidak ada salahnya bagi parents untuk menjelaskan apa saja perubahan yang akan terjadi pada tubuh nantinya. Jelaskan juga pada usia berapa mereka akan mengalami nya. Pada anak perempuan, sampaikan bahwa ia akan mengalami pertumbuhan payudara juga mendapatkan menstruasi pertamanya. Begitu juga pertumbuhan rambut pada beberapa bagian tubuh seperti ketiak dan area vagina. Sementara pada anak laki-laki, selain pertumbuhan penis dan testis, ia juga akan mengalami perubahan suara, hingga mimpi basah. Lalu, pertumbuhan rambut di area wajah, ketiak, dan area penis. Jelaskan pada mereka bahwa semua perubahan tersebut adalah hal yang normal dan tidak perlu malu atau takut jika mereka berada di fase ini nantinya.
Sekilas tentang aktivitas seksual
Parents perlu ketahui bahwa anak-anak juga memiliki kecenderungan seks lho. Parents bisa lihat tahapan psikoseksual menurut Freud berikut:
- Oral stage (usia 0-1 tahun), tahap oral adalah pusat kesenangan bagi bayi yang baru lahir. Keterikatan paling awal seorang bayi adalah pada orang yang memberikan kebutuhan terhadap kebutuhan oralnya misalnya dengan menyusu dan menghisap jari.
- Anal stage. Toilet training pada usia 1-3 tahun adalah tugas yang menantang selama periode tahap anal pada anak. Dari tahap kesenangan memasukkan ke dalam mulut pada tahap oral menuju tahap anal yang prosesnya sebaliknya.
- Mengajarkan anak untuk berhajat yang tepat, perlu parents lakukan yahh. Ternyata, toilet training yang ketat dan keras menyebabkan ketika dewasa bersikap perfeksionis, terobsesi kebersihan, dan pengendalian.
- Phallic stage. Tahap ini dianggap paling kontroversial, sebab tahap pada usia 3-6 tahun ini, adalah tahap dimana anak mulai mengalami kesenangan yang terkait dengan alat kelaminnya. Pada fase ini, anak-anak perlu dikenalkan dengan bagian reproduksinya, seperti penis pada lelaki dan vagina pada perempuan.
- Latency stage (usia 6-12 tahun). Pada usia ini, anak mulai bertindak berdasarkan impuls mereka secara tidak langsung seperti sekolah, olahraga, dan menjalin hubungan. Disfungsi pada tahap ini mengakibatkan ketidakmampuan anak untuk membentuk hubungan yang sehat sebagai orang dewasa.
- Genital stage (usia 13-18 tahun). Ego anak berkembang sepenuhnya selama tahap ini. Mereka kemudian menjadi mandiri untuk beberapa hal, termasuk kematangan organ reproduksi, hingga menciptakan hubungan yang bermakna, langgeng, dan nyata. Hasrat aktivitas seksual juga berkembang pada fase ini. Jika mengalami disfungsi selama periode ini, mereka tidak akan mampu mengembangkan hubungan yang sehat dan bermakna.
Anak-anak mungkin sudah mulai menaruh perhatian terhadap lawan jenisnya. Oleh karena itu, parents perlu ajarkan kepada anak mengenai hubungan dengan lawan jenis.Perlu diberitahukan juga bagaimana mereka untuk memperlakukan lawan jenisnya. Contohnya, memberi tahu bahwa berciuman dan berpelukan sudah termasuk ke dalam aktivitas seksual yang dilakukan oleh orang dewasa. Sampaikan mengenai aktivitas seks dengan bahasa yang mudah dipahami anak. Beri tahu bahwa aktivitas tersebut hanya boleh dilakukan saat sudah menikah dan anak seusianya tidak sepatutnya melakukan aktivitas seksual seperti itu. Sampaikan juga risiko yang mungkin dialami oleh anak seusianya jika melakukan aktivitas seks orang dewasa. Ingat yah parents, hal ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi bermaksud agar anak bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri saat sedang tidak dalam pengawasan orangtua.
Bekali anak tentang kekerasan dan pelecehan seksual
Sejak anak berada di sekolah dasar, parents perlu memberikan pemahaman mengenai pelecehan seksual kepada anak dengan bahasa yang mudah dimengerti. Jelaskan bahwa anak sudah harus bisa melindungi dirinya sendiri. Misalkan, menyampaikan sesuatu atau berteriak ketika ada orang yang berperilaku mencurigakan atau menggodanya. Tidak hanya itu, termasuk didalamnya berupa intimidasi penampilan atau bagian tubuh, hingga mencoba menyentuh bagian tubuh tertentu perlu diberikan pengertian ke anak.
Parents juga boleh menjelaskan bahwa tidak ada seorangpun yang harus merasa diwajibkan untuk berhubungan seks atas dasar paksaan atau ketakutan. Segala macam seks atas dasar paksaan adalah bentuk pemerkosaan, tidak peduli pelaku adalah orang asing maupun yang mereka kenal baik adalah hal yang terlarang. Kenalkan pada anak apa mitigasi yang perlu dilakukan mengenai pelecehan maupun kekerasan seksual tersebut
Seks edukasi merupakan hal urgen yang perlu diperkenalkan ke anak sedini mungkin. Mengingat bahwa pelecehan dan kekerasan seksual dapat terjadi karena ada kesempatan. Membekali anak dengan pendidikan seks merupakan hal yang penting dan wajib dilakukan oleh parents sekalian. Yuk sama-sama belajar dan tetap mencoba yahhh. (asf)





0 Komentar