( source: G_Masters/ pexels.com) 

Hai Parents sekalian! tahukan bahwa stimulasi itu sangat penting dalam setiap pencapaian perkembangan dan pertumbuhan anak agar sesuai dengan target di usianya?. Ngomong-ngomong, stimulasi yang gimana sih?. Stimulasi untuk anak usia dini adalah serangkaian kegiatan dan interaksi yang dirancang untuk merangsang perkembangan fisik, kognitif, bahasa, sosial, dan emosional anak-anak pada usia dini (biasanya dari bayi hingga sekitar usia enam tahun). Stimulasi pada masa ini sangat penting loh karena otak anak sedang mengalami perkembangan pesat dan lingkungan berperan penting dalam membentuk koneksi otak yang kuat. Yuk kita simak beberapa bentuk stimulasi yang parents dapat diberikan kepada sikecil berikut ini!

Stimulasi Fisik

(source: Sides Imagery/ pexels.com)

Stimulasi fisik ini sangat peting diberikan untuk si kecil, apalagi anak di usia 1-2 tahun yang memang masih sangat mengutamakan sensorimotor-nya. Contoh stimulasi yang bisa parents berikan seperti:

  1. Bermain dengan mainan yang cocok usianya, seperti mainan gigitan, bola, dan mainan yang dapat merangsang koordinasi motorik halus dan kasar.
  2. Memberikan kesempatan bermain di luar ruangan, seperti di taman atau halaman rumah, untuk merangsang keterampilan motorik kasar dan mengembangkan koneksi sensorik dengan alam.
Parents perlu banget untuk berkeyakinan bahwa anak akan berkembang optimal tidak hanya dengan mengurungnya didalam rumah. Ia juga butuh banyak mengeksplor lingkungannya. Yang paling penting adalah selalu dalam pengawasan dan jangkauan parents sekalian.

Baca juga:

Stimulasi Kognitif

(source: Karolina Grabowska/ pexels.com)

Selain stimulasi motorik, stimulasi kognitif juga penting banget nih untuk perkembangan otak si kecil. Meskipun anak kecil terlihat seperti tidak tahu apa-apa, ya tentu karena kata John Locke dalam teori tabula rasa-nya mengatakan bahwa anak itu seperti kertas putih. Manusia dilahirkan dengan suatu keadaan dimana tidak ada bawaan yang akan dibangun pada saat lahir, kemudian lingkungan disekitarnya lah yang akan menentukan seperti apa dia saat dewasa. So, penting banget untuk parents memberikan stimulasi kognitif yang tepat unutk si kecil. Nah berikut ini beberapa contoh sitmulasi yang bisa parents berikan:

  1. Membacakan buku cerita dengan gambar dan suara yang menarik untuk merangsang daya khayal dan kreativitas anak.
  2. Memberikan puzzle, blok bangunan, dan permainan lain yang melibatkan pemecahan masalah dan pengenalan konsep matematika sederhana.
  3. Mengajukan pertanyaan sederhana untuk merangsang pemikiran kritis dan rasa ingin tahu.

Perlu diingat juga yah parents, bahwasanya di usia golden age-nya ini, otak anak berkembang sangat pesat dari beberapa thapan kehidupan manusia pada umumnya. Sayang banget kan kalo nggak dimanfaatin baik-baik?

Stimulasi Bahasa

(source: Ketut Subiyanto/ pexels.com)

Selanjutnya adalah stimulasi berbahasa. Pernahkah paretns mendengar istilah speech delay?. Belakangan ini kasus keterlambatan berbicara pada anak memang sedang marak terjadi. Dilansir dari tangerangdaily.d bahwa Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pernah mengungkapkan data bahwa 5 hingga 8% anak prasekolah mengalami gangguan ini. Penyebabnya sangat beragam, dan yang paling utama adalah kurangnya stimulasi berbahasa pada anak sedari dini. Parents tidak perlu khawatir, berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengsimulasi perkembangan bahasa si kecil.

  1. Berbicara dan bernyanyi kepada anak secara teratur untuk membantu pengembangan keterampilan bahasanya.
  2. Membacakan cerita dan menceritakan pengalaman sehari-hari untuk memperkaya kosakata dan memahami cara berkomunikasi.
Perlu dicatat bahwa sesibuk apapun parents, mengajak anak untuk berbicara setiap hari itu penting yah! meskipun kadang anak seperti tidak memahami apa yang kita bicarakan, atau kadang kita tidak memahami bahasa yang mereka ucapkan, it's okay! Parents, hanya perlu membiasakannya saja, perlahan pasti akan menjadi lebih baik.

Stimulasi Sosial

(source: Charles Parker / pexels.com)

Stimulasi sosial juga tak kalah penting untuk dilakukan nih. Mengingat pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Selain itu juga untuk melatih jiwa sosial anak sembari ia beranjak dewasa. Berikut ini beberapa stimulasi sosial yang dapat parents lakukan terhadap si kecil.

  1. Bermain bersama anak di lingkungan sosial yang aman dan mendukung untuk mengembangkan keterampilan sosialnya.
  2. Mengatur waktu bermain dengan anak-anak sebaya untuk membantu mereka belajar berbagi, bekerja sama, dan membangun hubungan sosial.
Dalam melakukan stimulasi sosial ini, parents juga perlu untuk mengenalkan norma-norma sosial yang ada dalam masyarakat. Tentunya dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti.

Stimulasi Emosional

(source: Courtney Stephens / pexels.com)

Sedari kecil sesungguhnya anak juga sudah dapat merasakan berbagai emosi dalam dirinya. Merasa sedih ketika ditinggal orangtuanya bekerja, merasa marah jika popoknya penuh, merasa bahagia saat mendapatkan barang kesukaannya. Jika emosi itu bersifat positif, seperti perasaan gembira, bahagia, bangga, tentu parents akan baik-baik saja bukan?. Nah sebaliknya, kalau emosi yang sedang muncul adalah emosi negatif, seperti marah, kecewa, sedih. Sudah pasti parents banyak yang kewalahan, utamanya jika anak marah. Sebenarnya, si kecil juga tidak tahu emosi yang sedang dikeluarkannya itu apa, namun secara alamiah mereka akan mengekspresikan emosi yang dirasakannya tersebut. 

Penting untuk parents membiarkan anak mengekspresikan emosinya dengan tuntas, apapun itu. Berikut ini adalah cara memberikan stimulasi emosi kepada si kecil.

  1. Memberikan dukungan emosional dan kasih sayang yang konsisten untuk membantu anak merasa aman dan dicintai.
  2. Mengajarkan anak untuk mengidentifikasi dan mengelola emosi mereka dengan mendukung ekspresi emosi yang sehat.

Sering salah kaprah di masyarakat, bahwa ada anak kecil yang menangis karena ia merasa marah atas sesuatu yang terjadi, namun orang dewasa disekitarnya justru terburu-buru untuk mendiamkannya, menggendong, mengalihkan emosinya, atau justru menyalahkan. Perlu dicatat yah parents, selama anak tidak melukai dirinya atau orang lain ketika mereka sedang emosional itu gapap kok. Jadi yang perlu dilakukan awasin aja si kecil selama mengekspresikan emosinya tersebut.

Stimulasi Seni dan Kreativitas

(source: Tatiana Syrikova/ pexels.com)

Stimulasi terakhir yang perlu parents lakukan adalah seni dan kreativitas. Percayalah bahwa setiap orang memiliki ketertarikan terhadap seni, entah itu seni rupa, seni musik, maupun seni tari, atau lain sebagainya. Demikian juga anak usia dini, mereka pasti memiliki ketertarikan sendiri terhadap seni sehingga perlu mulai dikenalkan. Stimulasi ini juga berkaitan dengan kognitif anak lho, parents. Jadi lakukan upaya berikut yahh!

  1. Mengizinkan anak untuk berkreasi dengan cat, pensil, dan bahan seni lainnya untuk merangsang ekspresi kreatifnya.
  2. Memberikan kesempatan bermain peran atau berimajinasi untuk merangsang kreativitas dan daya khayalnya.
Memberikan kebebasan berekespresi kepada anak merupakan hal yang penting, caranya dengan menstimulasi aspek seni dan kreativitasnya.

Nah itu dia 6 stimulasi yang perlu parents berikan untuk si kecil. Penting diingat juga bahwa setiap anak unik, jadi selalu perhatikan minat, kemampuan, dan kebutuhan anak dalam menyediakan stimulasi yang sesuai yah parents. Berikan dukungan dan perhatian yang positif dalam menjalani interaksi dengan anak usia dini, karena ini akan membantu mereka tumbuh dan berkembang dengan baik dalam semua aspek kehidupan mereka. (asf)